Home » » Republik Maluku Selatan (RMS) Pasca Pengakuan Kedaulatan Indonesia

Republik Maluku Selatan (RMS) Pasca Pengakuan Kedaulatan Indonesia

Republik Maluku Selatan (RMS). ( Pergolakan Sosial Politik Antara Pusat dan Daerah Pasca Pengakuan Kedaulatan Indonesia ) Ketidaktentuan kondisi politik dan ekonomi pasca pengakuan kedaulatan menyebabkan munculnya kecurigaan antara elit politik. Hal ini yang berpengaruh terhadap buruknya hubungan antara pusat dan daerah. Pertentangan kepentingan antara pusat dan daerah menyebabkan berbagai peristiwa yang bersifat sparatis seperti dibawah ini

Republik Maluku Selatan (RMS)
Peristiwa ini terjadi di Maluku pada tanggal 25 April 1950 oleh orang-orang Indonesia pro Belanda yang tergabung dalam KNIL. Di Maluku, sebelum KMB masyarakat sudah terpecah menjadi dua golongan yang terhimpun dalam suatu organisasi yaitu:

1. Partai Indonesia Maluku (PIM). Golongan ini menginginkan Indonesia berdaulat penuh di bawah pimpinan E.M.Pupela.

2. Persatuan Timur Besar (PTB). Golongan ini berkeinginan untuk tetap mempertahankan negara federalis bikinan Belanda, di bawah pimpinan L. Pellaupessy.

           Suasana semakin menjadi keruh dengan datangnya pasukan istimewa KNIL yang bernama Pasukan Baret Hijau dan Baret Merah di kota Ambon pada tanggal 17 Januari 1950. Mereka mengadakan keonaran dan penganiayaan terhadap masyarakat sipil sehingga mengakibatkan kematian bagi masyarakat kecil.

Suasana semacam ini menjadi kesempatan yang baik oleh Dr. Soumokil Cs. untuk menyebarkan isu-isu yang bernuansa SARA. Di antaranya:

1. Orang-orang Jawa akan menjajah  dan mengislamkan orang-orang Maluku.

2. Apabila Republik Indonesia, maka semua orang Kristen di Ambon akan dibunuh. Karena itu kita harus memberikan perlawanan terhadap Republik Indonesia.

3. Harus membentuk negara sendiri bernama Republik Maluku Selatan yang akan di dukung oleh Amerika Serikat, Australia, dan Belanda.

Dalam menyelesaikan masalah ini, pada tanggal 29 April 1950 pemerintah RIS mengirimkan Dr. Leimena dengan maksud menyelesaikan masalah ini secara damai. Karena cara ini tidak dapat berjalan dengan efektif, maka dilaksanakan operasi militer di bawah pimpinan Kolonel Alex Kawilarang.

Operasi militer memerlukan waktu  cukup lama, pada tanggal 2 Desember 1963  Dr. Soumokil dapat tertangkap tanpa melalui letusan sejata. Dengan tertangkapnya Dr. Soumokil bukan berarti aktivitas RMS sudah selesai, hal ini dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa sampai saat ini di Maluku masih membawa bendera RMS. Hal ini mungkin disebabkan oleh sisa-sisa RMS yang di luar negeri, terutama di negeri Belanda.

0 komentar:

Post a Comment

Google+ Followers

Pencarian