Home » » PERADABAN LEMBAH SUNGAI EUFRAT DAN TIGRIS

PERADABAN LEMBAH SUNGAI EUFRAT DAN TIGRIS


PERADABAN LEMBAH SUNGAI EUFRAT DAN TIGRIS

Sejak jaman kuna, Sungai Eufrat dan Tigris telah menciptakan lembah subur yang – sesuai dengan namanya – lebih dikenal dengan nama Lembah Eufrat dan Tigris. Daerah subur inilah yang kemudian melahirkan Peradaban Mesopotamia yang banyak memberikan sumbangan bagi peradaban dunia. Daerah sekitar hilir Sungai Eufrat dan Tigris, sekarang termasuk wilayah Irak kecuali bagian Utara masuk wilayah Turki, dan Syria di bagian Barat Laut. Di bagian tengah Irak terdapat dataran rawa-rawa yang terbentuk oleh Sungai Eufrat dan Tigris. Kedua sungai ini menyatu sampai Shat al Arab yang bermuara dan membentuk delta di Teluk Persia.

Munculnya Mesopotamia –yang artinya daerah antara dua sungai—sampai dengan perkembangannya menjadi daerah agraris yang maju melalui proses penaklukan tantangan alam yang keras. Misalnya berkaitan dengan sungai Eufrat dan Tigris yang sering banjir, tetapi tidak dapat diramalkan sebagaimana halnya sungai Nil. Demikian pula perubahan suhu seringkali sangat ekstrim. Daerah Mesopotamia juga kurang terisolir bila dibandingkan dengan Mesir. Invasi dari daerah sekelilingnya sangat mudah terjadi. Baik dari daerah utara dan timur yang bergunung-gunung, dari barat dan barat daya yang bergurun pasir membuktikan bahwa tidak ada rintangan alam yang mampu menghambat setiap invasi untuk merampas kekayaan yang dimiliki oleh lembah itu.

Dengan kondisi yang demikian itu, di Mesopotamia terjadi suksesi negara—bukan hanya suksesi dinasti--- yang silih berganti. Para penyerbu yang masuk ke lembah Eufrat dan Tigris itu akhirnya terserap masuk ke dalam kebudayaan yang terus menerus berkesinambungan selama lebih dari 3000 tahun SM.

PERADABAN SUMERIA

Secara keseluruhan, Peradaban Mesopotamia meliputi tiga bagian, yaitu Sumeria, Babilonia dan Asiria. Di antara ketiganya, yang paling tua adalah peradaban Sumeria yang terletak di bagian muara Sungai Eufrat dan Tigris. Sumeria sebagai salah satu negara kota pada saat itu terletak sekitar 150 km dari Teluk Persia. Kota-kota bangsa Sumeria,misalnya Ur dan Lagash dibangun sekitar 3000 SM, berarti jauh lebih tua daripada Mesir Kuna. Kota-kota biasanya dipusatkan di sekitar kuil pemujaan, yang secara harfiah dianggap sebagai pemilik kota itu. Di tanah yang datar, kuil itu biasanya merupakan bangunan yang paling menonjol ke atas, yang diibaratkan sebagai gunung jadi-jadian. Salah satu kemudian terkenal adalah Ziggurat.
 
Di sebelah utara bangsa Sumeria berdiam bangsa Akkadia yang termasuk rumpun bangsa Semit yang berasal dari daerah padang pasir. Di bawah pimpinan Sargon, bangsa Akkadia menginvasi bangsa Sumeria (2500 SM), yang kemudian berbaur dan memperkaya peradaban bangsa pendahulunya. Salah peninggalan bangunan yang mereka wariskan adalah Taman Gantung yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Bangsa Sumeria meinggalkan warisan budaya yang tak terhitung jumlahnya.

Antara lain, dari sinilah muncul sistem penghitungan waktu dengan dua desimal yang hingga kini masih digunakan. Demikian pula astronomi, mitos-mitos penciptaan, cerita-cerita tentang yang mati dan hidup kembali, epos-epos, dan peraturan perundangan dan masih banyak lagi lainnya (Sugihardjo Sumobroto dan Budiawan, 1989: 35). Sebagian dari warisan tersebut diuraikan berikut ini.

Kepala negara kota adalah seorang raja yang disebut Patesi dengan  kekuasaan sangat besar. Di samping sebagai kepala negara, ia juga  merangkap sebagai pemimpin agama, mengatur masalah ekonomi dan panglima perang. Beberapa nama patesi yang pernah memerintah di Sumeria adalah A-annipada, Urukagina, Urnia, dan Lunggalzaggisi.

Dalam bidang ekonomi, Sumeria semula mengadakan hubungan dagang dengan Akkadia negara tetangganya yang merupakan penghasil kayu dan batu yang diperlukan untuk pembangunan Sumeria. Kontak dengan negara tetangganya tersebut ditunjang oleh keberadaan  Jalan Kafilah yang menghubungkan dua negara tersebut dan sekaligus   merupakan bagian dari jalan kafilah yang menghubungkan Teluk Persia dengan bagian timur Laut Tengah.

Bangsa Sumeria telah mengenal huruf yang terdiri atas kurang lebih 350 tanda. Cara menulis: mula-mula huruf digoreskan pada tanah liat yang masih basah baru kemudian dibakar. Jabatan juru tulis begitu penting sehingga perlu diawasi oleh negara. Hasil karya sastra mereka berhubungan masalah kepercayaan, di antaranya dalam bentuk wiracarita Gilgamesh yang memiliki kemiripan dengan kisah Nabi Nuh.

Kerajaan Sumeria tidak menghasilkan bangunan yang megah dan terbuat dari batu. Bahan bangunan yang utama adalah batu bata: sebagian dibakar dulu sebelum digunakan, tetapi ada pula yang tidak melalui proses pembakaran. Sementara itu lahan pertanian dimiliki oleh perseorangan yang mengolahnya dengan menggunakan bajak yang bermatakan besi.

Temuan penting dalam bidang ilmu pengetahuan berhubungan dengan ilmu hitung. Berbeda dengan bangsa Mesir, yang mengenalkan susunan hitungan berdasarkan persepuluhan, mereka menggunakan hitungan perenam-puluhan, seperti misalnya dalam satu jam ada 60 menit. Begitu pula lingkaran yang memiliki besaran 360 derajad adalah temuan bangsa Sumeria. Mereka juga memperkenalkan kalender: satu tahun terdiri atas 354 atau 360 hari.

Sementara itu Sumeria juga dianggap peletak dasar bagi berkembangnya kepercayaan di Mesopotamia. Bangsa Sumeria memuja dewa-dewa yang dianggap sebagai penguasa alam semesta. Sebagian dia antaranya adalah Dewa Anu (Dewa Langit), Dewa Enlil (Dewa Bumi), Dewa Ea (Dewa Air) yang mendapat tempat utama dalam kepercayaan bangsa Sumeria. Di sampig itu bangsa Sumeria juga menyembah Dewa Sin (Dewa Bulan), Dewa Samas (Dewa Matahari), dan Dewa Istar (Dewa Perang sekaligus Dewa Asmara)

PERADABAN BABYLONIA

lain yang berada di tepi Sungai Eufrat adalah Babilonia. Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa raja Babilonia juga memiliki kekuasaan yang besar seperti halnya raja Sumeria. Kerajaan Babylonia didirikan oleh bangsa Amoria yang semula berasal dari daerah Syria. Setelah melakukan invasi, mereka kemudian mendirikan kerajaan baru di tepi sungai Eufrat. Raja terbesar dari Babylonia adalah Hamurabi karena upayanya menegakkan hukum untuk menjamin keadilan dengan menggunakan prinsip pembalasan yang setimpal.

Kitab Undang Undang atau hukum yang dipahatkan pada batu dan terdiri 4000 baris tersebut mengatur aspek-aspek kehidupan rakyat. Misalnya masalah harga, tarif, ukuran, pertanian, perang dan damai, dan tata susila. Di samping itu Raja Hamurabi juga mengatur tentang persyaratan sebagai anggota tentara, penyelenggaraan upacara pengorbanan, tata cara pengadilan, cara mendirikan rumah, hukuman terhadap kejahatan, harga barang, upah dll. Dengan cara demikian, tindakan sewenang-wenang pejabat terhadap rakyat mudah diawasi. Hukuman yang diberikan terhadap pegawai pemerintah yang melanggar jauh lebih berat daripada terhadap rakyat biasa.

Ilmu-ilmu pengetahuan selanjutnya lebih berkembang di Mesopotamia dari pada di Mesir, khususnya astronomi dan matematika yang mengembangkan suatu body of knowledge yang jelas. Dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu pengetahuan itu di ambil alih oleh bangsa Yunani. Teori-teori yang menjelaskan mengapa perkembangan ilmu pengetahuan ini hanya terjadi di daerah ini sukar dibuktikan. Sistem pertanian dan metode-metode irigasi jelas mendorong timbulnya keahlian di dalam keahlian dan tehnik, tetapi ini tak lebih dari apa yang sudah berkembang di Mesir.

Kepercayaan keagamaan Chaldea boleh jadi telah mendorong timbulnya studi perbintangan sebagai faktor penentu nasib manusia. Mungkin astronomi mulai muncul di tepi gurun pasir di sekitar lembah-lembah sungai itu di mana para penggembala, yang sempat bermalas-malasan setiap malamnya, menyaksikan cerahnya langit yang ditaburi bintang-bintang. Apakah teori ini benar atau tidak, kita tidak tahu karena sulit dibuktikan.

Di Mesopotamia, hukum juga dikembangkan hingga taraf tertentu sehingga disini pulalah hukum benar-benar muncul. Hukum ini seperti kecenderungan hukum primitif, tidak lagi mengandung rahasia-rahasia serta kekuatan semi magis dari kelas tertentu kaum laki-laki. Hukum Hammurabi muncul sekitar tahu 1800 SM dengan dipahatkan pada lempengan-lempengan yang bertahan hingga 4000 tahun itu. Hukum ini tentu saja didahului dengan hukum-hukum Sumeria yang lebih awal munculnya. Dalam banyak hal, ini merupakan hukum primitif juga, yang mengecam kejahatan dengan kutukan dan dendam.

Berikut ini adalah contoh pernyataan hukum yang bersumberkan pada hukum Hamurabi.

Barang siapa menghancurkan mata orang lain, maka mereka juga akan menghancurkannya.

Namun dalam menyerang dan memukul, hukum Hammurabi tidak selalu sebarbar contoh di atas. Misalnya, contoh sebagai berikut :

Jika seseorang memukul orang lain dalam pertengkaran dan melukainya ia akan bersumpah:“Saya memukulnya tanpa sengaja“, dan ia akan membawanya pada seorang tabib“.

Hukum Hammurabi didasarkan atas suatu masyarakat yang berkasta : melukai orang dari kelas atas di denda lebih berat dari pada melukai orang bebas, dan melukai orang bebas dendanya lebih tinggi dari melukai seorang budak. Namun ini bukanlah masyarakat di mana individu tertentu dianggap tak mempunyai hak sama sekali atau tak mempunyai kepribadian di mata hukum. Kaum budak juga mendapat perlindungan hukum. Mereka memiliki status. Di bawah kondisi tertentu mereka mendapat perlakuan yang sama. Bahkan seorang bangsawanpun akan mendapat denda jika ia telah melukai atau membunuh seorang budak. Hubungan-hubungan rumah tanggapun juga diatur dalam banyak ketetapan. Berikut ini sebuah contoh:
Seandainya seorang wanita memang terpaksa membenci suaminya dan lalu berkata : ‘ Aku bukan isterimu lagi’ mereka (para penegak hukum) akan menyelidiki sebab musababnya lalu akan mencatatnya. Jika ia memang telah menjadi nyonya rumah yang baik dan tak bersalah serta suaminyalah yang telah meninggalkannya, maka ia (wanita itu) tak dapat dipersalahkan. Lalu ia akan menerima maharnya dan kembali ke rumah orang tuanya.
Namun jika ia terbukti telah menyeleweng, telah menyimpang, telah mengabaikan rumah dan meremehkan suaminya, mereka (para penegak hukum) akan menceburkannya ke dalam air“. 

Incest merupakan sesuatu yang selalu membawa musibah. Oleh karena itu orang harus berusaha menghindarinya. Namun meskipun demikian, hanya beberapa ratus mil dari pusat kerajaan ini, perkawinan saudara sepupu merupakan hal yang lumrah di kalangan raja-raja Mesir. Jika seorang laki-laki tertelungkup di dada ibunya, setelah kematian bapaknya, mereka akan membakar keduanya“.

Agama Mesopotamia mempunyai banyak dewa yang masing-masing melambangkan peperangan, urusan sehari-hari, sex dan ada satu dewa yang bertindak selaku pengatur keluarga dewa-dewa jika terjadi pertengkaran. Di Babylonia dewa ini adalah Marduk, yang namanya juga dipakai sebuah planet besar yang oleh para astrolog Yunani disebut Jupiter. Jadi para satrolog itu telah menyamakan Marduk dengan Jupiter. Di dalam polytheisme ini, pengertian akan dosa sangat terbatas sekali, karena invasi-invasi yang terus menerus ke lembah ini yang menyebabkan adanya proses pengadopsian dewa-dewa baru.

Kehidupan sesudah mati bangsa Mesopotamia pertama-tama adalah tempat bagi orang-orang terlantar yang samar-samar, seperti “Sheol“ bagi bangsa Yahudi atau “Hedes“ bagi bangsa Yunani. Namun ketika dewa-dewa yang beraneka ragam dari negara-negara kota yang terpisah-pisah itu diorganisasikan ke dalam satu pantheon, dan juga ketika negara-negara kota (city states) itu sendiri juga diorganisasikan ke dalam kekaisaran, muncullah suatu agama yang banyak kesamaannya dengan agama Yunani-Romawi, bahkan juga dengan Yahudi-Kristen.

Khususnya hubungan keluarga dan atribut-atribut para dewa dan dewi melambangkan kesejajaran dengan hubungan-hubungan manusia, satu penjelasan alam semesta dengan istilah-istilah yang dapat dipahami manusia. Namun, lepas dari semua itu, dewa-dewa harus disembah, diajak kompromi (dalam persepsi kita) barangkali juga disuap atau disogok atau dirayu. Di antara para dewa,  Tammuz, yang banyak pemujanya dipercayai bahwa ia menurunkan kekekalannya kepada mereka.

Sebagaimana telah kita ketahui cerita tentang banjir bah seperti yang telah dimuat dalam Injil boleh jadi berasal dari Babylonia, seperti dengan cerita tentang menara Babel. Reruntuhan perpustakaan raja-raja Assyria menunjukkan adanya epos besar tentang Gilgamesh, seorang pahlawan Mesopotamia yang legendaris. Di atas lempeng ke tujuh dari epos itu ada catatan tentang banjir besar, seperti yang tersirat dalam syair berikut.

Bila hari ketujuh semakin mendekatKulepaskan seekor burung merpati dan kubiarkan ia pergiIa terbang tinggi, terus semakin tingginamun manakala tiada temapt untuk beristirahat, ia kembali Kemudian kulepaskan burung layang-layang, dan
kubiarkan ia pergi terbang tinggi
Burung layang-layang itu semakin tinggiNamun tatkala tiada tempat untuk melepas lelah, ia pun kembaliLalu kulepaskan seekor burung gagak, dan
Kubiarkan ia terbang melayang
Burung gagak itupun pergi menjauh dan
menyaksikan menyurutnya airia pun turun untuk mencari makan, lalu pergi dan tiada kembali lagi

Dalam bidang militer, jumlah pasukan yang dimiliki oleh Babilonia tidak terlalu besar namun sewaktu-waktu dapat ditambah sesuai dengan keadaan. Mereka sudah menggunakan kereta perang berroda empat yang ditarik oleh keledai. Pasukan infanteri menggunakan topi dari tembaga dan perisai, bersenjatakan, lembing, kapak, dan sejenis pedang. Bukti-bukti sejarah juga menunjukkan bahwa mereka menaruh minat pada bidang astronomi dan matematika. Namun kejayaan Babylonia di bawah pemerintahan Hamurabi berakhir  ketika pada sekitar 1900 SM secara berulang mendapatkan serangan dari bangsa Hittie dari arah barat.

PERADABAN ASIRIA 

Telah dikemukakan oleh para ahli sejarah bahwa Lembah Sungai Eufrat dan Tigris merupakan daerah yang subur. Dampak dari kondisi ini, daerah tersebut tidak pernah sepi dari peperangan untuk memperebutkannya. Salah satu bangsa yang memiliki ambisi kuat untuk menguasainya adalah bangsa Asiria yang semula berdiam di bagian hulu sungai Eufrat dan Tigris. Setelah beberapa kali berperang melawan bangsa Sumeria dan Akkadia, akhirnya mereka berhasil menguasai daerah tersebut dan mendirikan kerajaan dengan ibukota di Nineveh yang terletak di bagian hulu sungai Tigris. Kecuali tanahnya subur, daerah ini juga mengandung bijih besi.

Sejarah kejayaan Asiria merupakan sejarah ekspansi kerajaan tersebut. Seluruh wilayah Mesopotamia, Bagian Timur Laut Tengah, dan Mesir pernah dikuasai selama beberapa waktu. Pasukan Asiria terdiri dari orang-orang asli, bukan tentara bayaran, dengan pertimbangan kesetiaannya dapat diandalkan. Peralatan dan senjata mereka terdiri dari  kereta perang, topi tembaga, penutup dada dari besi, panah, tombak, dan kapak. Mereka berlatih untuk melakukan pengepungan, mendobrak pintu gerbang, melakukan terror.

Ada sejumlah raja besar yang memerintah Asiria, di antaranya adalah Raja Sagon II yang berhasil menguasai kerajaan Sumeria. Sedangkan Raja Sennacherib, putra Raja Sargon II, berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan menaklukan daerah-daerah di pantai barat Asia Kecil sampai ke Mesir. Sementara itu Raja Assurbanipal berhasil membangun perpustakaan yang menyimpan kurang lebih 22000 buku dalam bentuk lempengan tanah liat bertuliskan huruf paku daru jaman kerajaan Sumeria dan Babylonia.

Raja Asiria memerintah secara mutlak. Untuk menjamin kepastian hukum, pengadilan menggunakan saksi-saksi yang disumpah. Hukuman mati, misalnya dengan cara dipancung dan kerja paksa merupakan hal yang umum. Mata pencaharian yang utama adalah pertanian yang menghasilkan gandum, zaitun, anggur, dan sayur-sayuran. Berdagang dianggap sebagai pekerjaan rendah, karena itu pelaku perdagangan adalah orang-orang Babylonia.

Bangsa Asiria percaya bahwa Dewa Matahari (Assur) yang dilambangkan dengan roda, sebagai kepala/pemimpin para dewa, Assur juga dianggap sebagai pelindung para raja.  Tradisi upacara kematian menunjukkan bahwa mereka yang meninggal diberi pakaian lengkap. Kerabat orang yang meninggal biasa menyewa orang untuk meratapinya. Sementara itu dalam bidang seni budaya, Asiria banyak meniru Babylonia.

Memperhatikan peninggalan Peradaban Mesopotamia, tidak selalu mudah untuk menentukan pengaruhnya terhadap perkembangan peradaban Indonesia. Terasa lebih sulit lagi apabila harus memperhitungkan pengaruh yang sejaman karena kurun waktu perkembangan Peradaban Mesopotamia jauh lebih awal bila dibandingkan dengan perkmbangan peradaban yang ada di Indonsia.

Pengaruh-pengaruh dari aspek pemikiran mungkin sekali mudah dipahami, walaupun dengan rentangan waktu yang jauh berbeda. Dalam bidang astronomi, ilmu hitung, dan hukum Hamurabi – dengan sendirinya setelah mengalami modifikasi, dan melalui jalur panjang yang dibawa bangsa asing – berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan hukum di Indonesia.

0 komentar:

Post a Comment

Google+ Followers

Pencarian